Suhbah teristimewa untuk Habib Al-Jufri

This post is also available in: English, Arabic, Bahasa Sug, Turkish

Sohbah Dari Maulana Shaykh Nazim

Sohbah Teristimewa Buat Habib Ali Al-Jufri

23hb November 2010

A’uzubillah himinash shaitan nirrajeem

Bismillah-hir Rahman-nir Raheem

Assalamu’alaikum wrh wbkt

(Suhbah ini khusus diberikan kepada yang mulia Habib Ali Al Jufri, ketika beliau mengunjungi Maulana di Lefke. Maulana memberikan Suhbah mengenai Sultanul Arifin, Sayyidina Abu Yazid Al Bistami (QS), Syekh Agung yang ke enam dari urutan Thariqat Naqshbandi, yang Maqamnya berada di Damascus, meski sebagian orang berkata bahwa maqam beliau berada di Iran.)

Maulana: Setiap manusia pasti rasakan ketakutan dan cemas akan Hari Pembalasan. Siapa yang tidak gentar saat diadili di hadapan Tuhan Yang Esa pada Hari itu. Hati Sayyidina Abu Yazid Al Bistami (semoga Allah selalu meninggikan kedudukan beliau dan memelihara rahasia beliau) selalu mengharap-harap akan tibanya Hari tersebut. Beliau berkata,”Aku selalu menanti Allah memanggil namaku pada Hari itu! “Oh Aba Yazid!” Tuhanku akan memanggil namaku pada Hari itu- nah…apalagi yang lebih aku inginkan? Setelah Dia memanggil namaku, bahkan jika Dia melontarkanku ke neraka selepas itu, tidak mengapa, aku tidak akan takut akan api neraka, sebagaimana aku tidak akan merasakan kebahagian bahkan bila Dia memberiku seluruh syurga (sebagai ganti dari kenikmatan yang aku alami saat Dia memanggil dan menyebut namaku.)

“Adalah satu kehormatan luar biasa, sungguh nekmat dan indah, bagiku ketika mendengar Dia menyebut namaku! Dan ketika Dia mengadiliku, Dia akan bertanya, apa yang aku perlukan setelah ini, aku akan menjawab,”Aku tidak memerlukan apapun, ini sudah cukup dari azali ke abadi, mendengar Tuhanku menyebut namaku.’ Karena Allah, Zat Nya, Kalam Nya, adalah abadi di telingaku, aku akan selalu mendengar Dia menyebut namaku. “Oh! hamba KU, oh! hamba KU, oh! hamba Ku, oh! Aba Yazid.” Hanya itu yang aku perlukan, aku tidak menginginkan syurga, aku tidak takut api neraka, mendengar Tuhan ku yang Maha Esa menyebut namaku sementara aku bukanlah siapa-siapa….” Kedudukan semacam apa ini, Maqam seseorang yang hanya menginginkan Allah? Wahai hamba Allah, selalulah bersama Allah, kemudian Allah akan mendukungmu.

Habib: Kami memohon pengampunan dan ketulusan.

Maulana: Siapalah saya ini (untuk mengabulkan sesuatu)? Tidakkah kita mempunyai Nabi (SAW) (sehingga engkau meminta ini dariku?) Apakah Allah tidak akan membahagiakan Rasulullah (SAW) (dengan memberikan pengampunan dan perlindungan pada umatnya)? Sungguh, Rasulullah (SAW) akan bersedih bila beliau bahkan hanya kehilangan satu umatnya karena dilempar ke dalam neraka, jadi akankah Dia mencampakkan salah seorang hamba Nya ke dalam neraka?

Habib: Benar, Allah telah menjanjikan Rasulullah (SAW) untuk tidak mengecewakannya. Saya memohon keridhoan dan ampunan karena saya malu terhadap Allah.

Maulana: (menjawab dengan lembut) Apakah kita benar-benar merasa malu (dalam segala realitas)? Kesopanan telah lama disingkirkan dari muka bumi (tatkala Jibril (AS) datang untuk menyingkirkan Haya dari bumi), orang-orang dahulu malu untuk berbuat dosa di hadapan Allah, namun tidak lagi bagi orang-orang sekarang …

Habib: Kami memohon (pengetahuan dan bimbingan), ya Syekh.

Maulana: Rasulullah (SAW) pernah bertanya pada Allah,”Kurniakan ku Umat ini,” dan Allah menjawab,”mereka adalah Ummat yang diampuni, diselubungi dengan rahmat. Aku telah menganugerahkanmu Ummatmu, wahai Nabiku yang tercinta (SAW).” Kita adalah umat yang dicintai, umat yang diampuni. Jika kamu punyai empat puluh anak, apakah kamu dapat menerima bahkan bila salah satunya diambil oleh Sultan? Apakah hal tersebut dapat memberikan ketenangan dihatimu?

Habib: Tidak.

Maulana: Rasulullah (SAW) adalah Rahmat bagi semua ciptaan, Allah akan menganugerahkan beliau se hingga hatinya puas. Allah akan berkata kepada Rasulullah (SAW),”Hingga hatimu berasa amat puas, hingga hatimu rela, katakan apa saja yang engkau maukan, wahai kekasihku Ku!” (dan Rasulullah (SAW) tidak akan berasa puas sehingga kesemua orang beriman, diselamatkan oleh Allah.)

Habib: Allah berfirman dalam Kitab Suci Al Quran

وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ

Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas (Surah Ad-Duha 93:5)

Maulana: Siapakah kita ini? Kita ini hanya semut di mata Allah. Jika semut berbuat salah/silap, apakah kita marah dan terganggu karenanya? Apakah hal itu membebani kita?

Habib: Tentu sahaja, tidak!.

Maulana: Karenanya pahami ini, karena ini adalah jalan menuju kepada kebahagiaan. (ya itu, kita harus gembira memiliki Tuhan yang pengampun, kita tidak boleh berputus harapan pada rahmat dan ampunan Allah, Dia selalu mengampuni orang beriman yang bertobat, karenanya kita harus gembira.)

Habib: Syekh (Maulana) adalah pintu bagi kami menuju kebahagiaan. Dalam sebuah hadees, Nabi berkata,”Kabarkan kebahagiaan dan rahmat, untuk membahagiakan hati manusia.” (Maulana selalu membuat orang bahagia, beliau berkata, sudah terlalu banyak kesedihan di muka bumi, bawalah kebahagiaan pada hati mereke dan sembuhkan sakit mereka.)

Maulana: Bukankah Allah yang maha pengampun? Siapa yang Dia ampuni? Apakah ampunan itu untuk Nabi (SAW)? Tentu sahaja tidak. Ampunan Nya adalah buat pendosa! (Makanya siapa-siapa yang berbuat dosa tidak boleh berputus asa dari rahmat dan ampunan Nya, karena Allah berfirman,”Rahmat Ku lebih luas dari kemurkaan Ku.”)

إِنَّا فَتَحۡنَا لَكَ فَتۡحً۬ا مُّبِينً۬ا. لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعۡمَتَهُ ۥ عَلَيۡكَ وَيَہۡدِيَكَ صِرَٲطً۬ا مُّسۡتَقِيمً۬

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus (Surah Al-Fath 48:1-2)

Maulana: Dosa-dosa di masa lampau dan masa depan, telah diampuni (bagi siapa-siapa yaang benar-benar bertobat). Apakah kamu mengira seseorang dapat melalui pengawasan dan pengadilan Allah? Tidak seorangpun pantas berdiri di hadapan Nya dan diadili! (maka carilah ampunan sebelum menghadapi Nya.)

Habib: kami gembira andaikan kami menjadi seperti Anda dan bersama anda (Maulana) di dunia ini dan di akhirat kelak. Ini telah diatur sejak Hari Alastu birrabbikum, Hari Perjanjian! (setiap orang Suci punya murid, dan akan menemani murid-murid mereka menuju Keabadian, jadi Habib merasa nyaman bersama Maulana, karena setiap domba harus bersama gembalanya agar aman dari serigala.)

Maulana: Qalu bala! Alhamdulillah! Ini telah ditetapkan sejak Hari Perjanjian. Kami adalah hamba padaNya, kami adalah hambaNya. Dia tidak akan melemparkan kami ke neraka, bersyukurlah pada Allah karena hal itu. Tetapi kita harus berwaspada akan satu hal. Nabi bersabda,”Allah telah mengajarkanku dengan adab yang terbaik.” Jadi barang siapa yang memiliki adab terbaik, akan berada di hadapan Allah, namun siapa-siapa yang beradab buruk, dengan sikap seperti hewan, akan ditempatkan dimana mereka dapat memenuhi nafsu badani, makan dan minum. (Jadi meskipun semua umat Muhammad pada akhirnya akan diselamatkan, ada beberapa jenis syurga yang berbeda untuk mereka, ada yang dekat dengan Allah, yang lain, jauh. Nabi SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, kita tidak boleh puas hanya dengan melakukan ajaran-ajaran paling minimum dalam Islam, kita harus berusaha menjadi yang paling depan dalam keimanan, yang terbaik dari semua orang beriman! Karena orang-orang beriman jenis ini yang nanti paling dekat dengan Allah, selamanya).

وَكُنتُمۡ أَزۡوَٲجً۬ا ثَلَـٰثَةً۬ (٧) فَأَصۡحَـٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ مَآ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ (٨) وَأَصۡحَـٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ مَآ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ (٩) وَٱلسَّـٰبِقُونَ ٱلسَّـٰبِقُونَ (١٠) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلۡمُقَرَّبُونَ (١١

Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu beriman,merekalah yang paling dulu (masuk syurga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepadaAllah). (Surah Al-Waqi'ah 56:7-11)

Maulana: Semua orang tahu bahwa binatang tidak akan diadili. Bayangkan bila anda seorang petani. Bila seekor binatang tersesat di ladang lalu memakan tanaman, anda tentu akan mengadu ke hakim tentang apa yang terjadi, agar mendapatkan ganti dari kerugian. Akankah sang hakim meminta sang binatang untuk dibawa menjadi saksi dan memberikan kesaksian di pengadilan?

Habib: Tentu tidak.

Maulana: Jadi, siapa yang akan dibawa ke pengadilan? Pemilik binatang, sang gembala. Begitu banyak manusia seperti binatang (ternak) bila dilihat dari kelakuan/atribut/sifat. Binatang ternak tidak pernah diberi tanggungjawab. Manusia sekarang mempunyai sifat seperti binatang, sekarang ini, setiap orang hidup tanpa akal sehat, tanpa tanggungjawab-sepertinya binatang! (Jadi kita harus mencari gembala, seorang ‘pengacara’ yang dapat membela kita di pengadilan Tuhan,kita harus mencari seorang Pembimbing! (Barang siapa yang tidak punya seorang Syekh, akan mengambil ego/syahwatnya sebagai pembimbing mereka.)

أَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ ۥ هَوَٮٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيۡهِ وَڪِيلاً. أَمۡ تَحۡسَبُ أَنَّ أَڪۡثَرَهُمۡ يَسۡمَعُونَ أَوۡ يَعۡقِلُونَ‌ۚ إِنۡ هُمۡ إِلَّا كَٱلۡأَنۡعَـٰمِ‌ۖ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّ سَبِيلاً

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (Surah Al-Furqan 25:43-44)

Habib: Jadi kita bukan siapa-siapa melainkan binatang, ya Syekh!

Maulana: Jika kita bisa berubah, menanggalkan sifat binatang kita, kita tidak akan lagi menjadi binatang, kita akan dapat mencapai tempat kita di syurga, kita menjadi bagian dari manusia malakuti, manusia surgawi. Jadi kita harus menyingkirkan kelakuan buruk kita, kita harus berusaha menjadi baik. Seseorang tanpa kelakuan baik seperti binatang, tidak dapat memegang tanggung jawab. (Orang yang berkelakuan buruk ditempatkan di kandang kuda jauh dari Istana. Namun orang yang bersih, berkelakuan baik, akan diizinkan masuk istana, duduk bersama Raja!)

Al-Fatihah.

Habib Ali Al Jufri mengambil ijazah dari Maulana Syekh Nazim Al-Haqqani

 

Komentar:

  • Ini bukan Suhbah biasa. Perbualan penuh kemesraan antara ke dua sheykh sheykh yang merupakan ahli, penuh puitis, dan jauh amat dalam maknanya bagi kita untuk dimengerti secara utuh. Maulana menyebutkan bahwa ada Suhbah untuk semut (seperti kita) dan ada untuk gajah (seperti yang terhormat Habib Al Jufri), dan semut tidak akan bisa membawa bebanan yang dibawa seekor gajah,
  • Siapakah Sayyidina Abu Yazid (QS) yang Maulana bicarakan? Sayyidina Junaid Al-Baghdadi berkata tentang Sayyidina Tayfur Abu Yazid Al-Bistami (QS),”Sebagaimana Jibril (AS) adalah yang paling utama dari para malaikat, hal serupa juga adalah Abu Yazid (QS) di antara para Sufi.” Anda dapat membaca sejarah kehidupan beliau di sini.
  • Sayyidina Abu Yazid (QS) ditanyai,”Tunjukkan padaku satu perbuatan yang olehnya aku akan dapat menjadi dekat pada Tuhan,” Beliau menjawab,”Cintai teman-teman Allah sedemikian rupa hingga mereka akan mencintaimu. Cintai orang-orang suci Nya sehingga mereka mencintaimu pula. Sebab Allah melihat hati orang-orang Suci Nya dan Dia akan melihat namamu terpatri di hati orang-orang suci Nya dan Dia akan mengampunimu.” Karena alasan inilah, pengikut Naqshbandi diangkat karena cinta mereka terhadap Syekh, Cinta ini mengangkat mereka ke tempat dimana ada kesenangan abadi dan kehadiran terus menerus di hati orang-orang yang mereka cintai.
  • Walaupun seluruh manusia beriman dari Umat Muhammad (SAW) pada akhirnya akan diselamatkan, bahkan meski hanya sekali mengucapkan La ila ha illallah dalam hidupnya, ada beberapa kategori syurga yang berbeda bagi tiap orang. Orang yang beriman yang gagal menanggalkan sifat hewan dalam diri mereka akan tetap berada di ‘kandang kuda’-yang mana adalah istilah Maulana untuk mengatakan syurga di bawah Tahta Singgasana, Orang semacam itu hidup dengan sifat-sifat hewan mereka. Sebagai binatang, mereka hidup tanpa tanggung jawab,jadinya mereka tidak akan pernah di beri tanggung jawab dan dipercayai. Tidak seorang ayahpun yang bersedia mengalihkan bisnisnya pada seorang anak kecil yang masih mengenakan popok atau pada orang dewasa yang tidak punya sifat bertanggung jawab.
  • Itulah sebabnya mengapa Maulana menyebutkan berkali-kali dalam Suhbah ini, tentang pentingnya membina dan meningkatkan secara terus menerus sikap kita, untuk menyingkirkan prilaku kebinatangan kita, dan mendapatkan atribut/sifat laksana Malaikat. Orang orang sedemikian, yang punya sifat mampu bertanggung jawab, sehingga mereka-mereka inilah yang akan menerima kepercayaan, dan bisa meninggalkan dunia ini sebagai khalifa, untuk mencapai maqam Rabbani, lewat kebajikan yang telah dilalui hingga akhir dari perjalanan indah ini, dan meraih kesempurnaan, oleh Syekh kita.
  • Nabi diutus untuk menyempurnakan akhlaq. Semakin kita mampu membersihkan diri kita dari sifat-sifat buruk, semakin dekat kita pada Tuhan. Segala macam gelar dan status tidak berarti lagi, jika seseorang mempunyai prilaku buruk. Meski Nabi (SAW) mempunyai nama dan gelar yang tidak terhingga, tidak seorang pun datang kepada Islam karena status dan gelar beliau; mereka datang kepada Islam sebab mereka merasakan cinta dan kebenaran yang dibawa beliau pada mereka-mereka yang mempunyai kehidupan hampa, mengubah mereka dari keberadaan yang suram, menjadi penuh harapan, menularkan cinta kepada Tuhan, gembira ria dalam perjalanan menuju keabadian, untuk bersama Nya selamanya! Nabi (SAW) membawa pesan kasih dan kebahagiaan, prilaku beliau menyentuh nurani manusia, bahkan manusia yang paling keras sekalipun melunak dihadapan kerendahan hati beliau, kelembutan dan dari kasih sayangnya yang murni. Beliau tidak hanya berkata bahwa beliau mencintai umatnya, beliau menghidupkannya hingga orang-orang di sekitar beliau merasakannya(kasih sayangnya). Bahkan kita, yang hidup hampir 15 abad kemudian, masih merasakannya!
  • Rasulullah (SAW) tidak pernah menghancurkan atau membakar hati orang-orang di sekitar beliau dengan kata-kata yang sengaja dibuat untuk menyakitkan dan menghina. Tidak sekalipun beliau melakukan itu, maka kita juga harus berhati-hati dengan apa yang kita ucapkan pada orang lain. Syekh Bahauddin, putra Maulana, berkata pada saya suatu kali pada suatu pertemuan di Kuala Lumpur,”Ayah saya tidak pernah menyakiti sesiapapun dalam sepanjang hidup beliau. Beliau selalu berpesan pada saya untuk memperlakukan hati orang seperti gelas bejana yang berharga mahal, yang sekali kamu hancurkan, kamu tidakkan bisa mengembalikan bentuk aslinya. Terimalah setiap orang apa adanya, karena Allah lah yang menciptakan mereka begitu. Seorang suci adalah mereka yang mempunyai hati, dimana hati-hati yang lain dapat disatukan.” Betapa bijaksana dan nyata kata-kata itu! Lebih baik kita menerima rasa sakit, daripada kita yang menjadi yang menyakiti, karena tidak peduli berapa kalipun kita memohon maaf setelahnya, dan mencoba memperbetulkan kata-kata kesat yang telah kita ucapkan, kita tidak akan mampu menyatukan lagi hati yang hancur! Ada sebuah hadis,”Menyakitkan hati orang yang beriman, adalah sama seperti menghancurkan Ka’bah.” Karena hati seorang beriman adalah Arsullah.
  • Perlakukan manusia dengan hormat. Allah sendiri akan melimpahi kehormatan pada manusia.

وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِىٓ ءَادَم

Dan kami muliakan anak cucu Adam (Surah Al-Isra' 17:70)

Begitu banyak orang yang menggunakan ayat ini sebagai omongan manis; mereka mengutipnya ketika mereka menginginkan kehormatan, dan mengabaikannya bila ketika mereka merendahkan orang lain. Nasehat harus dilakukan dengan hati yang lembut, tanpa kekasaran dan paksaan. Tidak terhingga hadis yang menyebut tentang Nabi yang bergaul dengan kelembutan dan menasehati Sahabat secara pribadi, tidak memaparkan kesalahan pribadi dari Sahabat beliau didalam Khutbah atau Suhbah. Allah adalah As Sattar, sang Penutup. Dia suka bila kita menutupi kesalahan saudara-saudara kita. Nabi berkata, ”Barang siapa yang mencari-cari dan memaparkan kesalahan orang-orang beriman, Allah akan membuka rahasia-rahasianya, meskipun itu hanya terjadi dalam rumahnya sendiri.”

ٱذۡهَبَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُ ۥ طَغَىٰ. فَقُولَا لَهُ ۥ قَوۡلاً۬ لَّيِّنً۬ا لَّعَلَّهُ ۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ

Pergilah engkau ke Firaun. Sesungguhnya dia sudah melampaui batas. Dan berkatalah kamu berdua dengan kalimat yang lembut semoga dia akan mengingat atau takut pada Allah (Surah Ta-Ha 20:43-44)

  • Sungguh, tidak seorangpun dari kita lebih mulia daripada Sayyidina Musa (AS), atau lebih jahat daripada Fir’aun, namun demikian Allah tetap memerintahkan Sayyidina Musa (AS) untuk menasehati Fir’aun dengan kelembutan, agar dia dapat menerima nasehat! Jadi tidak ada alasan bagi kita semua untuk berkata pada sesiapapun, bahkan pada orang kafir sekalipun, dengan sikap yang merendahkan atau kasar.

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِ‌ۖ وَجَـٰدِلۡهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحۡسَنُ‌ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ‌ۖ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[أ‌] dan nasehat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik dan penuh kesopanan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang menerima petunjuk. (Surah An-Nahl 16:125)

  • Kamu boleh tidak setuju dengan cara, pendirian, pendapat orang lain, tetapi kamu harus menghindarkan diri dari pertengkaran, kamu harus ‘ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[أ‌] dan penuh kesopanan dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. ‘. Itulah perintah dalam AlQuran.
  • Kita tidak harus mencipta pembohongan dan fitna hanya kerna kita tidak sefahaman dengan pendapat atau pandangan seseorang.

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَةٌ۬ مِّنكُمۡ‌ۚ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرًّ۬ا لَّكُم‌ۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٌ۬ لَّكُمۡ‌ۚ لِكُلِّ ٱمۡرِىٍٕ۬ مِّنۡہُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِ‌ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُ ۥ مِنۡہُمۡ لَهُ ۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬ . لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتُ بِأَنفُسِہِمۡ خَيۡرً۬ا وَقَالُواْ هَـٰذَآ إِفۡكٌ۬ مُّبِينٌ۬

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan(mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (Surah An-Nur 24:11-12)

  • Ketika tuduhan mencapai ke telinga seseorang, hal yang pertama yang kita pelajari dari Al Quran adalah berprasangka baik pada saudara muslim kita (pada siapa tuduhan-tuduhan itu dibuat). Lalu kita diminta untuk menyelidiki sumber-sumber terpercaya. Kita tidak boleh meloncat ke kesimpulan yang jahat, dan terus mencabik-cabik orang itu dengan tuduhan palsu. Kita harus takut pada Allah, karena, sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, setiap orang yang berprilaku sedemikian akan menerima hukuman yang pedih.

وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُ ۥ فِى ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأَخِرَةِ لَمَسَّكُمۡ فِى مَآ أَفَضۡتُمۡ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٤) إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُ ۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٌ۬ وَتَحۡسَبُونَهُ ۥ هَيِّنً۬ا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٌ۬ (١٥) وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ قُلۡتُم مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَڪَلَّمَ بِہَـٰذَا سُبۡحَـٰنَكَ هَـٰذَا بُہۡتَـٰنٌ عَظِيمٌ۬ (١٦) يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦۤ أَبَدًا إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ (١٧)

Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat,niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal itu pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau(Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya,jika kamu orang-orang yang beriman (Surah An-Nur 24:14-17)

  • Saat ini kaum Muslim memandang fitnah dan kebohongan sebagai hal remeh di lidah mereka, mereka duduk dalam suatu perkumpulan sambil menggunjingkan orang lain. Padahal ini adalah hal yang sangat serius dalam pandangan Allah! Rasulullah (SAW) berkata,”Jika kamu dapat berjanji padaKu bahwa kamu dapat menjaga dua hal dalam dirimu, Aku akan menjamin syurga untukmu-iaitu jagalah apa yang ada diantara bibirmu (lidahmu) dan apa yang ada diantara pinggang/selangkanganmu (bahagian sulitmu).” Hadis yang lain menyatakan,”Seorang yang beriman, adalah orang yang dimana kamu aman, dari kata-katanya maupun perbuatannya.”
  • Jangan biarkan kebencian kita pada seseorang, menyelubungi keadilan untuk dia.

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٲمِينَ لِلَّهِ شُہَدَآءَ بِٱلۡقِسۡطِ‌ۖ وَلَا يَجۡرِمَنَّڪُمۡ شَنَـَٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْ‌ۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰ‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Surah Al-Ma'idah 5:8)

  • Adab, adalah untuk menjadi bukan apa-apa(nol/kosong)), merendah dihadapan Tuhanmu. Maulana Syekh Adnan menasehati kita, untuk meninggalkan semua pujian yang kita terima, didalam tong sampah sebelahan pintu sewaktu jalan keluar.Tidak peduli pujian semacam apapun yang kita terima, jangan pernah meninggalkan majlis dengan membawa pujian semacam itu. Tinggalkan semuanya di belakang, dan pergilah dari majlis itu sebagai,seorang yang ‘ bukan apa-apa’, ‘bukan siapa-siapa’. Seseorang yang tidak berstatus penting. Nah…itu adalah penting, karena tujuan dari tariqoh adalah untuk menjadi bukan apa-apa. Kenyatannya adalah kita adalah bayangan Tuhan, kita tidak mampu melakukan apa-apa jika Tuhan tidak menggerakkan kita.

فَلَمۡ تَقۡتُلُوهُمۡ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمۡ‌ۚ وَمَا رَمَيۡتَ إِذۡ رَمَيۡتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ‌ۚ وَلِيُبۡلِىَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡهُ بَلَآءً حَسَنًا‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ۬

Kamu tidak membunuh mereka melainkan Allah yang membunuh mereka. Dan engkau (Muhammad) tidak melempar ketika kau melempar melainkan Allah yang melempar. Dan Dia menguji orang-orang beriman dengan cobaan yang tidak menyulitkan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui . (Surah Al-An'am 6:17)

  • Maulana Syekh Adnan menyimpulkan ini dalam suatu kalimat-“kita tidak lain dan tidak bukan adalah bayangan dari Tuhan, kita bukan siapa-siapa.” Jadi merendahlah, jangan menyakiti orang (dengan kalimat ataupun perbuatan) dan berusahalah untuk melucuti sifat-sifat hewan dari dirimu, sehingga kita juga, dapat mengalami kenikmatan yang dicari guru kita Abu Yazid (QS) pada Hari Pengadilan.

Ameen, ya rabbal ‘alameen.

Amin ya rabbal ‘alamin.

Habib Ali bersama Tuanku H.R.H Shaykh Raja Ashman Shah idi Lefke dengan Sultan

 

 

Suhbah 15 menit dalam bahasa Arab in dapat dilihat hanya di www.saltanat.org. Pilih dari menu bagian kanan,” Bistami Hz 23 Nov 2010′. Di situ ada sebuah tombol CC di dekat kontrol Suara di bagian bahwa layar dengan pilihan 11 bahasa, mulai dari bahasa Arab, Indonesia atau Melayu, Jerman, Inggris, Spanyol, Italia, Rusia, Mandarin, Belanda, Italia dan Turki. Selama siaran langsung Suhbah ditayangkan, tombol bagian atas juga menyediakan Live Audio Translation (Audio Penerjemahan Langsung) ke dalam bahasa lain. Bila tayangan tersebut tidak lagi ada di situ, silakan cari dalam arsip video di situs Saltanat TV.

 

Saltanat TV adalah situs resmi Maulana Syekh Nazim yang direstui oleh beliau secara pribadi.

 


This entry was posted in Suhbah and tagged . Bookmark the permalink.