Kunci Menuju Kehidupan yang Indah: 18hb Oktober 2010

This post is also available in: English

Ringkasan suhbah Harian Maulana Syaikh Nazim
18 Oktober 2010
Kunci Menuju Kehidupan yang Indah

A’uzubillah himinas syaitan nirrajiim
Bismillah-hir Rahman-nir Rahiim
Assalamu’alaikum wrwb

  • Maulana menyarankan agar kamu mengikuti setiap suhbah dengan tekun, sehingga kamu dapat mengambil setiap permata yang terkandung di dalamnya, yang mungkin saja adalah kunci buat kamu menggapai kehidupan yang Indah, di dunia dan di akhirat. Kehilangan satu kunci, berarti kamu telah kehilangan sebuah peti harta Karun yang penuh dengan kenikmatan hidup!
  • Hidup ini Indah, itulah sebabnya tidak ada yang ingin meninggalkan kehidupan ini. Kita mencintai apa yang kita pelajari, yg kita rasakan dan pengalaman-pengalaman yang telah kita alami, begitu banyak kenangan dan kenikmatan sehingga kita enggan untuk meninggalkan hidup ini dan kita ingin hidup selamanya. Tetapi dunia ini tidak pernah dirancang untuk menjadi tempat tinggal yang kekal abadi, dunia ini hanyalah gambaran sekilas tentang kehidupan yang akan datang.
  • Maulana mengatakan, bahkan jika kamu mengejar seekor semut dan berusaha untuk membunuhnya, ia akan melarikan diri, karena ingin tetap mempertahankan hidupnya dan menikmati rasa manisnya kehidupan. Ia memiliki hak untuk tetap hidup, jadi janganlah mengakhiri hidupnya dengan kejam. Itu memang hal kecil dan terlihat tidak berarti, tetapi sesungguhnya semut memiliki pemahaman yang lebih baik tentang dirinya dan tentang Sang Pencipta dibandingkan dengan sebahagian manusia. Ia memahami Siapa yang menciptakan kehidupannya dan ia selalu dalam keadaaan bertasbih, mengagungkan kebesaran Allah, karena ia bersyukur telah diciptakan dari ketiadaan menjadi ada untuk merasakan kenikmatan hidup.

تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَـٰوَٲتُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيہِنَّ‌ۚ وَإِن مِّن شَىۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَـٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡ‌ۗ إِنَّهُ ۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورً۬ا

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Surah Al-Isra' 17:44)

  • Sungguh memalukan bagi Ummat Manusia, yang tidak berada di dalam keadaan selalu mengagungkan kebesaran Allah, meskipun kita telah dianugerahkan kenikmatan lebih dari apa yang dianugerahkan kepada sang semut! Semua ciptaan bertasbih mengagungkan kebesaran-Nya, hanya Manusia yang lalai.Allah menciptakan alam semesta dan isinya, untuk menjadi contoh bagi manusia, sehingga manusia dapat mengambil pelajaran darinya, sayangnya manusia tidak dapat mengambil pelajaran dari makhluk di sekelilingnya, karena manusia tidak mengikuti petunjuk Ilahi, tetapi justru mereka mengikuti petunjuk syaitan, yang bermain dengan tipu daya, yang membutakan manusia sehingga manusia tidak lagi mampu mengambil hikmah dari ciptaan Allah yang berada di sekelilingnya.
  • Sebahagian guru Agama telah mengajarkan begitu banyak, sayangnya mereka lupa untuk mengajarkan dasar dari ajaran Agama! Maulana mengatakan bahwa mereka harus mengajarkan para pengikut dan siswa mereka, bahwa setiap anak cucu Adam adalah makhluk yang mulia, dan kamu harus banyak bersyukur kepada Allah karena telah membawa kamu dari tiada menjadi ada! Bahkan semut mengetahui mulianya diciptakan, dan mereka (semut) dalam keadaan bertasbih setiap saat sepanjang waktu dari awal hingga akhir hidupnya. Kamu juga harus belajar bagaimana menjalani hidup yang mulia dengan penuh rasa syukur, mereka yang tidak memiliki pengetahuan daripadanya, tidak akan mencapai kemuliaan di dunia dan di akhirat. Wahai manusia, mengapa kamu tidak melakukan hal yang sama? Mengapa kamu tidak mengucapkan:

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam (Surah Al-Fatihah 1:2)

  • Nabi (saw) mengajarkan para sahabat tentang begitu besarnya kemuliaan yang telah Allah anugerahkan kepada mereka. Kemudian mereka mensyukuri nikmat-Nya, dan menjadi orang yang memiliki kemulian. Para sahabat, memiliki tanggung jawab yang besar terhadap generasi yang akan datang, tetapi mereka tidak pernah merasa dibebani oleh tanggung jawab itu, mereka selalu dalam keadaan bahagia, mereka menjalani kehidupan dalam keadaan selalu bersyukur, meskipun mereka memiliki sedikit makanan enak atau pakaian mahal. Hati mereka selalu senang/ridha kepada Allah, karena mereka mengetahui kemuliaan diciptakan, dan mereka sangat berterima kasih dan bersyukur kepada-Nya.

وَٱلسَّـٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَـٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَـٰنٍ۬ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنۡہُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيہَآ أَبَدً۬ا‌ۚ ذَٲلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama [masuk Islam] di antara orang-orang muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (Surah At-Taubah 9:100)

  • Allah ridha terhadap para sahabat, jadi kita juga harus ridha dengan mereka. Sebagian Muslim telah menyalahkan, mengutuk dan berbicara buruk tentang sebahagian sahabat Nabi (saw). Tidak ada manfaat yang dapat diambil dari berbicara hal-hal yang buruk tentang orang lain, dan berbicara buruk tentang mereka yang telah meninggal (Almarhum/ah) bahkan lebih buruk lagi. Apa yang dapat kamu peroleh dengan berbicara buruk tentang para sahabat yang sudah meninggal sedangkan Allah ridha kepada mereka? Siapakah kamu untuk menghakimi orang yang telah diridhai oleh Allah? Allah berfirman, “Aku ridha kepada mereka, dan mereka juga ridha kepada Aku.” Seorang Imam di Iran baru-baru ini menyarankaan orang-orang Syi’ah untuk berhenti memfitnah sebahagian para sahabat – sebuah praktek yang telah dilakukan ratusan tahun hingga saat ini oleh orang-orang Syi’ah.
  • Mengapa Allah ridha kepada mereka? Para sahabat yang selalu rendah hati hanya memiliki sedikit harta, tetapi mereka selalu mensyukuri Nikmat-nikmat-Nya, dan mengabdikan diri kepada-Nya dengan keadaan bersyukur. Mereka memberi semua yang mereka miliki kepada Rasulullah (saw), demi Allah, bahkan jika mereka harus memberikan Jiwa mereka! Mereka melakukan itu semua dengan senang hati. Mereka mengenakan pakaian yang sederhana dan seadanya, dan mereka tidak pernah mencari kehormatan dari pakaian yang mereka kenakan, ataupun dari harta duniawi dan keindahan/perhiasan!
  • Saat ini orang-orang mencari kemuliaan dengan mengenakan pakaian yang mewah, dan mempamerkan harta mereka. Apakah itu sebuah kemuliaan? Bahkan mereka yang mengaku sebagai seorang pendakwah, mereka mengenakan pakaian mahal dan terlihat mewah, seolah-olah kemuliaan berasal dari pakaian yang mereka kenakan! Inilah yang terjadi ketika generasi muslim jahiliyah yang tidak mengerti dimana kehormatan mereka berada dan darimana kemuliaan itu muncul.
  • Apakah kita dalam keadaan selalu mengagungkan kebesaranAllah? Apakah para Raja dan Sultan memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya atas kemulian yang mereka perolehi? Saat ini, bahkan di Masjid Suci Mekkah dan Madinah, setelah selesai shalat berjama’ah mereka tidak bertasbih memuji-Nya! Setelah shalat selesai, yang ada hanyalah keheningan, dan suara yang terdengar setelahnya hanyalah suara langkah kaki Imam dan jemaah yang tergesa-gesa menuju pintu keluar. Mengapa tidak ada yang membaca, Subhanallah atau SultanAllah? Apakah Imam Salafi di sana benar-benar percaya bahwa memimpin Zikrullah berjemaah, untuk memuji dan mengagungkan kebesaran Allah secara berjamaah akan membawa kemurkaan Allah?
  • Wahai orang-orang yang tersesat, Masjid Suci adalah tanzeelur-rahmah, tempat dimana Rahmat Ilahi dari Samudera Rahmat, dicurahkan! Tetaplah berdiam di Mihrab, wahai Imam, tempat dimana Nabi (saw) biasa berdiam, dan bermunajat kepada Allah dengan memuja-Nya, mengagungkan Nama-Nya dan jadilah hamba yang bersyukur. Itu adalah perbuatan yang mulia, dan Allah memakaikan kepada mereka yang melakukan hal itu, dengan pakaian kemuliaan!
  • Janganlah menjadi orang pertama yang bergegas keluar dari Masjidil Haram setelah shalat berjamaah, seharusnya Imam yang terakhir keluar dari Masjid, sebagai contoh untuk para jamaah. Sang Imam seharusnya memimpin ribuan orang yang berada di sana, untuk memuji dan mengagungkan kebesaran Allah SWT. Sungguh menakjubkan bagaimana tipu daya syaitan telah sampai dan memasuki Haramain, berbisik kepada para imam, “Jangan, hentikan! Cukup, tinggalkanlah masjid! Zikir berjamaah adalah bida’ah dan menyalahi Sunnah! “
  • Wahai  Imam2, begitu sempit penafsiran kamu dari perkataan bida’ah (inovasi). Begitu picik pemahaman kamu tentang Islam! Begitu terbatas pandangan kamu mengenai Agama! Betapa mudahnya syaitan menipu kamu! Syaitan telah mengikat kamu dengan talinya, dan setelah salat Jumaat selesai, ia segera menarik kamu keluar, sebelum kamu sempat memimpin ribuan, atau mungkin jutaan orang mengagungkan kebesaran Allah! Membaca SubhanAllah atau SultanAllah bukanlah bida’ah! Zikir bukanlah suatu inovasi! Jika Imam2  ini tetap berkeras kepala dengan tidak mahu bertasbih kepada Allah setelah selsesai shalat, Maulana berdoa agar Imam2 Masjid seperti itu digantikan oleh mereka yang memiliki rohaniah sejati. Ameen.
  • Setelah meninggalkan dari mengagungkan kebesaran Allah, manusia sekarang hidup dalam ketakutan. Hidupnya dikelilingi oleh bencana dari segala penjuru. Ada gempa bumi, ribut taufan, tsunami, banjir dan sungai beracun ……
  • Manusia harus meninggalkan keangkuhannya, dan mengenakan pakaian yang terbuat dari kerendahan hati dan kepasrahan, kemudian bergerak mendekat ke hadirat Ilahi. Kamu tidak mungkin hadir ke hadirat Allah dengan mengenakan pakaian keangkuhan! Maulana bertanya, jika seseorang mengetuk pintu kamu untuk meminta sedekah, tetapi orang tersebut mengenakan pakaian bagus dan mahal apakah kamu akan tetap memberikannya sedekah/uang? Jelas tidak. Tetapi jika yang mengetuk itu mengenakan pakaian lusuh dan robek, kamu pasti akan membantunya.
  • Jadilah seperti para sahabat, mereka mengenakan pakaian yang jelek, dan hati mereka juga mengenakan pakaian yang terbuat dari kerendahan hati dan rasa syukur. Mereka datang kepada Allah, bersyukur kepada-Nya atas kemuliaan yang dianugerahkan kepada mereka. Saat ini mereka-mereka yang tersesat, enggan untuk datang dan memohon kepada Allah (merasa tidak butuh), namun ketika mereka datang untuk memohon, mereka datang dengan mengenakan pakaian yang ‘mahal’, dan dengan hati yang mengenakan pakaian keangkuhan dan kebanggaan!

ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعً۬ا وَخُفۡيَةً‌ۚ إِنَّهُ ۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ

Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Quran 07:55)

إِنَّ ٱلَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَيُسَبِّحُونَهُ ۥ وَلَهُ ۥ يَسۡجُدُونَ

Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nyalah mereka bersujud. (Surah Al-A'raf 7:206)

  • Memohonlah kepada Allah, memohonlah agar diberikan kesempatan untuk belajar menjadi seorang hamba. Seorang pembimbing rohani sejati harus bisa mengajarkan kepada kamu bagaimana menjadi seorang hamba Allah yang sesungguhnya. Bahkan jika kamu adalah seorang Raja, kamu tetap harus belajar bagaimana menjadi hamba sejati. Nabi (saw) bergaul mesra bersama dengan para sahabat dan masyarakat sekitar, dan beliau selalu bersama dengan mereka, sering pula beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa untuk mereka. Nabi (saw) juga mengenakan pakaian yang tidak berbeda dengan para sahabat dan masyarakat biasa. Wahai para Pemimpin/Raja, janganlah membuat diri kamu menjadi lebih tinggi dibandingkan masyarakat biasa. Jadilah seperti mereka dan bersamalah selalu dengan mereka, itulah bentuk penghambaan sesungguhnya. Dan Allah akan menganugerahkan kepada kalian dengan kemuliaan yang sesungguhnya.

Fatihah

Komentar

  • Dunia ini tidak pernah diciptakan sebagai tempat tinggal yang abadi, dunia ini hanyalah salah satu tahapan yang harus kita lalui dalam perjalanan panjang kita menuju kehidupan yang abadi, seperti ulat yang harus melalui tahapan kepompong sebelum berubah menjadi kupu-kupu. Kehidupan di dunia ini hanya memberikan gambaran sekilas kepada kita tentang kehidupan yang abadi. Seperti sebuah cuplikan film berdurasi 30 saat, yang memperlihatkan kepada kita akan seperti apa film berdurasi 3 jam itu nantinya.
  • Maulana mengatakan bahwa makhluk di sekitar kita membawa banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Kisah berikut adalah salah satu contohnya. Setelah Qabil membunuh Habil (as), dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya, maka Allah mengutus seekor gagak untuk mengajarkannya sebuah pelajaran.

فَبَعَثَ ٱللَّهُ غُرَابً۬ا يَبۡحَثُ فِى ٱلۡأَرۡضِ لِيُرِيَهُ ۥ كَيۡفَ يُوَٲرِى سَوۡءَةَ أَخِيهِ‌ۚ قَالَ يَـٰوَيۡلَتَىٰٓ أَعَجَزۡتُ أَنۡ أَكُونَ مِثۡلَ هَـٰذَا ٱلۡغُرَابِ فَأُوَٲرِىَ سَوۡءَةَ أَخِى‌ۖ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلنَّـٰدِمِينَ

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya [Qabil] bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. (Surah Al-Ma'idah 5:31)

  • Kita sangat beruntung bahwa kita telah diciptakan. Terlebih lagi kita diciptakan sebagai Bani Adam (Khalifatullah) yang merupakan anugerah kemuliaan yang teramat besar untuk kita semua. Kemudian Allah memuliakan kita lebih jauh dengan menjadikan kita ummat Rasulullah (saw). Dan kita adalah bagian dari ummat akhir zaman, yang dikatakan oleh Nabi (saw) sebagai kekasihnya, yaitu mereka yang tidak pernah melihat atau bertemu dengan beliau, namun mereka beriman dan mengikuti ajarannya. Ditambah lagi, kita termasuk mereka yang telah diberkahi untuk belajar dari seorang Waliyullah (Mursyidun Kamil) yaitu Maulana Syaikh Nazim. Sungguh, Allah telah memberkahi kita dengan berlapis-lapis kemuliaan!
  • Apakah yang Rasulullah (saw) lakukan ketika beliau dianugerahkan begitu banyak kemuliaan oleh Allah? Dalam sebuah Hadits yang terkenal, Rasulullah (saw) sholat sepanjang malam sampai kakinya bengkak, dan Sayyidah Aishah (ra) bertanya mengapa beliau memaksakan dirinya begitu keras, ketika seluruh dosa beliau telah diampuni dan dijamin keselamatannya. Nabi (saw) berkata, “Tidak bolehkan aku menjadi seorang hamba yang bersyukur kepada Allah?” Jadi sudah seharusnya mereka yang menyedari kemulian yang telah Allah anugerahkan kepada mereka, untuk menyembah, memuji dan mengagungkan kebesaran Allah sebanyak mungkin! Apabila Manusia tidak memahami pakaian kemuliaan yang telah Allah anugerahkan kepada mereka, maka sesungguhnya mereka akan bersikap dengan cara yang benar-benar tidak pantas dilakukan oleh mereka yang mengenakan pakaian tersebut. Lihatlah anak-anak, ketika orangtua mereka mendandani mereka pakaian yang bagus, dan membawa mereka pergi bertamu. Ketika mereka sampai di sebuah taman permainan yang penuh dengan lumpur atau tempat bermain yang kotor, mereka akan segera melompat dan bermain di tempat yang kotor tersebut dan mengotori diri mereka sendiri, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa mereka mengenakan pakaian bagus yang tidak diperuntukan untuk kegiatan yang kotor atau tidak penting tersebut. Janganlah terjun ke dalam lumpur (dari Dunia) dengan pakaian terbaik (Ilahi) Anda!
  • Maulana pernah berkata, bahwa Manusia adalah Pangeran di Mahkamah Ilahi. Dan dimanakah tempat yang sesuai untuk Pangeran yang perkasa dan mulia, yang mewakili Sang Raja? Di dalam Istana! Sayangnya,kebanyakan dari kita berada di kandang yang kotor dan penuh dengan lumpur, memenuhi kebutuhan sang Keledai. Keledai itu adalah ego kita. Apakah kita pernah melihat seorang Pangeran yang lebih suka tidur di dalam kandang yang berbau dan penuh dengan kotoran dan lumpur (Dunia), dibandingkan tidur di dalam Istana? Kita pasti akan mentertawakan Pangeran tersebut (Maulana menyebut mereka, orang-orang yang tidak memiliki otak)! Tetapi itulah yang telah kita lakukan selama ini
  • Kita harus kembali ke Mahkamah Ilahi! Tinggalkanlah keldai kita di kandang (meninggalkan tuntutan dan keinginan ego kita yang kotor), bersihkanlah diri kita dari kotoran dan lumpur (dengan bertobat), dan kembalilah ke Mahkamah Ilahi. Hanya ada satu Raja, jadi  kita tidak wajar kembali ke Mahkamah Ilahi dengan pakaian seperti Raja, tetapi kembalilah dengan kerendahan hati, berterima kasih bahwa kita telah dijadikan Pangeran dan bersyukur atas semua karunia yang diberikan oleh sang Raja.
  • Sedarilah kedudukan kita semua yang rendah, dan yang paling penting jaganlah meminta hadiah lebih banyak lagi, tetapi mintalah kedekatan kepada Raja, karena di situlah terletak kemuliaan yang tertinggi. Yang memberikan kemulian kepada kita bukanlah kerana dekatnya kita pada Istana, tetapi betapa dekatnya kita bersama dengan Sang Raja, itu akan membuat hati kita menjadi sangat bahagia. Itulah sebabnya para sahabat melontarkan Dunia dan berusaha untuk bersama dengan Allah. Oleh karena itu mereka selalu merasa bahagia, mereka ridha kepada Allah, dan Allah ridha kepada mereka. Ikutilah apa yang dicontohkan para sahabat! Nabi (saw) berkata, “Para sahabat bagaikan bintang-bintang di langit, siapapun yang kamu ikuti, kamu akan mendapat petunjuk.”
  • Seorang pemimpin sejati adalah mereka yang meniru Rasulullah (saw). Beliau dengan leluasa bergaul mesra dengan masyarakat, tidak seperti sebahagian pemimpin sekang ini, yang begitu sulit/sukar ditemui, dan selalu bersembunyi di balik tebalnya dinding birokrasi dan para pengawalnya. Beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa untuk mereka, yang menunjukkan bahwa beliau selalu meperhatikan kebutuhan mereka, beliau selalu memperlakukan mereka dengan kasih sayang dan murah hati, beliau ikut merasakan penderitaan yang mereka rasakan, dan beliau selalu menginginkan yang terbaik untuk mereka. Beliau berpakaian seperti mereka, yang berarti, beliau tidak pernah mengangkat diri beliau di atas mereka, beliau sangat rendah hati dan selalu berusaha menunjukan bahwa beliau adalah manusia bisa, dan tidak pernah berusaha menunjukan bahwa beliau adalah manusia yang “luar-biasa”. Tindakan bergaul mesra dengan masyarakat, yang terlihat biasa saja adalah ciri Maqam (tingkatan kedudukan) yang sangat tinggi dari seorang Waliullah (seperti Maulana Syaikh Nazim), kerana ego manusia tidak pernah suka menjadi orang biasa dan tidak diperhatikan.
  • Wahai orang-orang yang beriman, kamu adalah pemimpin untuk keluarga kamu sendiri, maka ikutilah apa yang dicontokan oleh Rasulullah (saw). Bersamalah dengan keluarga kamu, dan janganlah terpisah dan menjauh, duduk bersama dengan mereka dengan kasih dan tawa. Dengarkan kebutuhan mereka, fahami mereka, dan berdoalah untuk mereka selalu. Jadilah orang yang rendah hati, dan niscaya mereka juga akan belajar menjadi seorang yang rendah hati. Itulah sebabnya Nabi (saw) berkata, “rumahku adalah surgaku,” maka jadikanlah rumah kamu surga bagimu juga. Ajarkanlah keluarga kamu untuk selalu bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan, terutama bersyukur untuk nikmat yang terbesar yaitu nikmat diciptakan. Katakanlah kepada mereka, “Kamu tidak menciptakan dari kamu sendiri, kamu bahkan tidak mampu menciptakan satu kaki semutpun! Jadi, bersyukurlah bahwa Dia menciptakanmu, dan teruslah memuji-Nya. “

وَلَقَدۡ مَكَّنَّـٰڪُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَجَعَلۡنَا لَكُمۡ فِيہَا مَعَـٰيِشَ‌ۗ قَلِيلاً۬ مَّا تَشۡكُرُونَ

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu [sumber] penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (Surah Al-A'raf 7:10)

وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَـٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ‌ۙ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.  (Surah An-Nahl 16:78)

  • Ketahuilah bahwa kamu telah diberikan kemulian yang begitu besar oleh Allah, maka hidup dengan cara yang pantas, cara yang membawa kemuliaan dan menjadikan kamu lebih dekat kepada-Nya yang menganugerahkan kamu kemulian itu, dengan cara bersyukur kepada-Nya. Ridha kepada-Nya, dan hidup untuk membuat-Nya ridha. Itu adalah kunci untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi.

(Kami ingin menyambut ahli terbaru kami dalam pasukan SufiHub, beliau adalah seorang sukarelawan yang bekerja kerana cinta nya pada Shaykh kami. Salinan ini adalah usaha beliau, kami memohon doa dan Fatiha atas usahanya yg sangat mulia ini. Kami masih mencari sukarelawan2 atau sesiapa yg mahu bekerja untuk mengalih bahasa bersama SufiHub.)

Sila ke lelaman www.Saltanat.org untuk mengikuti pelajaran beliau. Maulana mengajar dalam Bahasa Inggeris, tetapi alih bahasa di siapkan dalam Bahasa Melayu/Indonesia. Salinan ringkasan terdapat di lelaman Naqshbandi Singapura, www.SufiHub.com.


This entry was posted in Suhbah. Bookmark the permalink.